4 Penyebab Harga Bitcoin Rendah di Pasaran

Harga Bitcoin – Sebagai uang kripto, bitcoin menjadi alat pembayaran maupun jual beli yang diincar oleh banyak investor dan pebisnis masa kini. Alasannya yang tak lain adalah mudahnya melakukan pemindahan uang ke negara lain secara cepat dan tidak memerlukan persyaratan berat tertentu.

Walaupun dinilai fluktuatif atau kerap menunjukkan indeks yang tidak stabil, kenyatannya bitcoin masih jadi alternatif untuk trading. Pernah suatu ketika China menyatakan untuk memblokir dan melarang penggunaan bitcoin, nilai tukarnya langsung turun hingga 10%.

Itu artinya, sebesar apa pun jumlah pengguna bitcoin rupanya tak membuat harganya selalu naik meski berbanding lurus dengan permintaan. Bahkan tak jarang, angka per kepingnya anjlok dan terjun jauh. Tahukah penyebabnya? Berikut faktor yang memengaruhi turunnya nilai tukar atau harga bitcoin:

  1. Kebijakan oleh sebuah negara yang melarang penggunaan bitcoin

Hal ini terjadi pada negara seperti China, Brazil, dan lainnya yang pernah menyatakan bahwa negara tidak mendukung transaksi menggunakan bitcoin. Itu artinya, transaksi uang kripto ini masih belum sepenuhnya legal. Alasan pemblokiran tidak pernah jauh-jauh dari persoalan pajak.  Seorang pemain, investor yang memakai bitcoin tentu merasa bahwa dirinya punya aset terpendam sehingga sewaktu-waktu ketika nilai tukar atau harga naik, maka jumlah penjualan atau penawaran juga akan naik. Mudahnya melakukan penuaran ke dalam bentuk rupiah juga akan menyulitkan perencanaan pajak oleh mereka sebagai pengguna. Dalam hukum pajak, bitcoin memang belum memiliki aturan konkrit di berbagai negara, sehingga jika terjadi pelarangan secara resmi, maka akan merugikan para pemain dalam jangka panjang. Apalagi mereka yang sudah terlanjur memanfaatkan bitcoin sebagai media trading.

  1. Aksi ambil untung sebesar mungkin

Biasanya ini dilakukan oleh para pemain jangka pendek yang ingin mendapatkan banyak keuntungan dalam waktu singkat. Aksi tak mau rugi memang tidak ingin dialami oleh semua orang. “Jika ada peluang mendapatkan untung, mengapa harus melewatkannya? “

Nah, buah dari pemikiran tersebut, nilai tukar bitcoin pun mengalami perubahan menjadi lebih rendah. Asalkan nilai tersebut tidak jauh dari ekspektasi atau nilai tukar pasar, maka dianggap biasa wajar. Lama-kelamaan, terjadilah penurunan nilai dari tinggi ke titik rendah.

  1. Berisiko tinggi

Penurunan nilai tukar atau harga bitcoin juga tidak lepas dari pernyataan bahwa akan mendapat risiko tinggi ke depannya. Risiko ini meliputi penipuan besar-besaran, spekulasi harga tanpa aturan, serta pelayanan yang kian memburuk seiring penambahan jumlah member atau pengguna bitcoin. Selain itu, bagi pengembang proyek yang memberi wadah terima pembayaran menggunakan bitcoin seringkali merasa kahwatir apabila si pembeli atau pembayar yang mentransfer uang kripto tersebut tidak mengerti sepenuhnya tentang seluk beluk teknologi uang digital. Walhasil, antara blockchain dan bitcoin berkesempatan besar dapat tercampur jadi satu.

  1. Permainan spekulasi harga yang merugikan pengguna lain

Naiknya bitcoin membuat para pemilik uang kripto ini juga bertindak di luar batas kewajaran. Tidak sedikit yang mencoba untuk memasang harga spekulatif. Terutama pemain baru yang melihat kesempatan untuk menukar bitcoin, mereka tak segan-segan untuk menjualnya tetapi justru merugikan pemilik yang lain. Mereka sebagai pembeli jangka pendek akan meraup kekayaan melimpah, sementara member lama akan merasakan dampaknya. Dari situlah terjadi penurunan harga secara signifikan karena kapasitas dan kemampuan untuk melakukan transaksi menjadi menurun dikarenakan ada penguasaan transaksi.

Padahal dalam lalu lintas arus uang virtual seharusnya tidak ada pihak yang mendominasi, tetapi mengingat keadaan sulit diprediksi maka penguasaan juga tak mungkin dihindari.